Saturday, August 10, 2013

UPACARA KURBAN DALAM ISLAM




Pendahluan
Kehidupan dialam semesta, dalam kesatuan social maupun sebagai individu tidak dapat berlangsung, kalau tidak dipelihara dan dirangsang dengan ritus-ritus yagn menjamin kesesuaian dengan kekuatan-kekuatan kosmis atau ilahi, begitulah pemikiran manusia-manusia religius. Ritus-ritus inisiasi dipraktikkan di mana-mana. Mereka menyucikan situasi-situasi kritis dan marginal dalam hidup individu dan kolektif. Persiapan-persiapan sebelum kelahiran, upacara-upacara sekitar kelahiran, inisiasi pemberian nama waktu pubertas, perkawinan, sakit dan upacara-upacara pemakaman diselengarakan diseluruh dunia untuk mencegah bahaya-bahaya yagn tersembunyi dalam perpindahan dari satu tahap kehidupan ketahap yang lain dan untuk menjamin kontak yang sangat diperlukan dengan sumber kehidupan. Tidak hanya kejadia-kejadian sangat penting dalam hidup, tetapi juga kegiatan-kegiatan kerja yang rutin serta permainan memperoleh kemanjuran dan kekuatan dari ritus-ritus yang mengirinya sebagai contoh pembuatan perkaks, pembangunan rumah, pembuatan perahu, pengolahan tanah, berburu dan memancing, mengadakan perang, semua ini memerlukan inkarnasi, pengilahian dan dedikasi.
Dari semua ritus ini, upacara kurban mempunyai tempat utama karena dengannya manusia religius mengadakan persembahan diri kepada Tuhan lewat suatu pemberian; dan hubungan serta komunikasi yang erat antara dia dengan Tuhan ditetapkan lewat keikut sertaan dan ambil bagian dalam persembahan yang disucikan. Oleh karena itu, tidak perlu diragukan bahwa upacara kurban tampak sebagai suatu ritus religius yang penting dan pada banyak suku bangsa kurban darah merupakan tindakan religius inti. Kita akan mencoba menganlisis fenomena ini terutama yang tampak dalam kurban da,am agama Islam.

Asal Mula Kurban Dalam Islam
Upacara kurban dalam Islam berasal dari nabi Ibrahim yagn banyak disebut sebagai bapak dari para nabi dalam Islam. Pada awalnya Ibrahim tidak dikarunia anak oleh Tuhan, dan saking inginnya ia terhadap anak ia selalu berdo’a baik siang dan malam terhadap Tuhan, dan ia berjanji akan menyerahkan anaknya kepada Tuhan. lalu pada suatu waktu istri beliau yang kedua yang bernama Siti Hajar tak lama kemudian mengandung dan melahirkan seorang putra yang bernama Isma’il dan ini adalah anak pertama dari nabi Ibrahim.
Ketika usia Isma’il kira-kira mencapai Tujuh tahun pada suatu malam Ibarahim bermimpi bertemu dengan Tuhan dan Tuhan memerintahkan kepada Ibarahim untuk menyembelih anaknya yang bernama Isma’il untuk memenuhi janji beliau yang akan menyerahkan anaknya kepada Tuhan. Setelah mimpi itu datang kepada Ibrahim selama kurang lebih tiga malam berturut-turut Ibrahim pun mendiskusikannya dengan anaknya Isma’il tentang mimpinya tersebut. Dan Isma’il pun menjawab “wahai ayahku , jika itu adalah perintah tuhan maka laksakanlah tanpa ada keraguan”. Lalu ibrahim melaksanakan hal tersebut pada hari yang telah ditentukan tapi ketika Ibarahim akan menyembelih anaknya datanglah malaikat jibril kepada Ibrahim dan mengganti Isma’il dengan seekor kambing yang gemuk. Dan memerintahkan kepada Ibrahim untuk melaksanakan kurban tiap tahun sebagai rasa syukur beliau terhadap Tuhan Yang  Maha Esa. Inilah awal mula kurban dalam Islam yang sampai saat ini dilaksanakan oleh seluruh ummat Islam sebagai hari raya ‘idul Adha atau hari raya kurban yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahun.

Arti Upacara Kurban
Upacara kurban dapat diartikan sebagai sebuah hubungan yang bagus dalam bentuk komuniksi nonverbal antara Tuhan dan manusia. Karena mencakup pertukaran barang dan jasa pada taraf yang religius. Upacara kurban secara ritual benar-benar suatu bentuk pertukaran antara manusia dan makhluk adikodrati: manusia pengurban memberikan barang-barangnya dan penerima ilahi bereaksi. Dalam hubungan religius pertukaran barang-barang tidak menunjukkan hubungan timbale balik yang sejajar secara langsung. Seseorang dapat mempersembahkan barang-barang untuk menyatkan Syukur, menyembah dan memberi penghormatan, memberi silih atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, merayakan kejadian-kejadian khusus dan memelihara hubungan-ubungan yang baik. Upacara kurban sebagai suatu komunikasi non verbal antara manusia dan makhluk adikodrati, meliputi persembahan, persekutuan dan silih.
Pertama kurban sebagai suatu persembahan hadiah. Dalam bentuknya yang paling sederhana, Tuhan diberi suatu hadiah sebagai ucapan Syukur maupun balas jasa atas sesuatu hal. Persembahan ini berupa buah-buahan pertama, hasil ternak yang pertama atau hasil perburuan, sebelum seseorang mengambil keuntungan bagi dirinya. Dalam antropologi social  persembahan secara tidak langsung mengimplikasikan suatu pertukaran barang dan jasa yang, meskipun dianggap muncul dari kehendak mereka, merupakan kewajiban dari tingkah laku social. Persembahan-persembahan dilakukan dengan pengharapan yang jelas bahwa ganjaran balasan akan diberikan lewat suatu cara. Secara tidak langsung sebagai suatu pembayaran atas sesuatu yang lebih baik.
Yang kedua kuraban dianggap sebagai persekutuan antara Makhluk adikodrati dan manusia. Robrtson Smith berpendapta bahwa dalam bentuknya yang paling khas, upacara kurban diantara bangsa semit, dan mungkin kelompok-kelompok yang lain, berupa perjamuan makan dimana para pengurban dan Makhluk adikodrati berbagi makanan yang sama, dengan mana mereka distukan dan sang kurban dalam arti tertentu identik dengan tuhan sendiri. Sementara mengakui bahwa persekutuan adalah unsure hakiki dalam upcara kuraban kita berpikir bahwa arti salin berbagi bersama, memberi dan menerima sudah tertanam dalam persekutuan itu sendiri. Dengan kata lain, pengurban makan apa yang dipersembahkan, apa yang diberikan sebagi hadiah. Ini adalah hadiah yang berupa barang yang dimakan dan bukan sesuatu yang lain. Demikianlah upacara kurban membentuk unsure hakiki dari upacara kuraban itu sendiri.
Yang ketiga upacara kurban sebagai silih, H. Hubert dan M. Mauss memberikan definisi upacara kurban sebagai berikut: “upacara kurban adalah suatu tindakan religius yang, melalui penyucian kurban, mengubah keadaan moral orang-orang yang melaksanakannya ataupun keadaan benda-benda tertentu  yang ia maksudkan.” Menurut mereka setiap upacara kurban selalu mengimplikasikan secara tidak langsung suatu penyucian, karena dengan itulah suatu benda berubah dari status profane ke status holy; tindakan dan hadiah berpindah dari wilayah umum menuju wilayah religius. Penyucian kurban berbeda dari penyucian-penyucian lainnya. sebagai contoh, ketika seorang raja disucikan, hanya kepribadian religiusnya sajalah yang diubah, hal lainnya tidak diubah. Tetapi penyucian juga mengenai moral  orang yang melakukan upacara. Peneyelenggara korba (orange yang menyediakan korban) melakukan persinggahan pada yang kudus, pada yang religius, yaitu: secara religius diubah. Pengurban bisa seorang pribadi maupun suatu kelurga, klan, suku atau bangsa. Barang yang disucikan menjadi pengantaraan bagi pengurban dan Makhluk adikodrati kepada siapa upacara kurban itu dilakukan. Kurban menghasilakan akibat terjadinya komunikasi antara yagn kudus dengan yang profane, sementara itu imam berlaku sebagai pelaksna kurban maupun wakil Tuhan.

Penutup
Upacara kurban dalam islam adalah suatu tanda syukur dari hamba terhada Tuhan atas risky yang telah diterima oleh seorang hamba. Dan sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua limpahan kasih dan rahmatnya.
Demikianlah makalah ini kami buat, kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan dalam penyajian makalah ini. Dan kami mohon kritik dan saran yang membangun terhadap makalah ini untuk memperbaiki pada pembuatan makalah kami yang selanjutnya.