Monday, February 25, 2013

PEMBARUAN DI SAUDI ARABIA


Pendahuluan
Saudi Arabia adalah sebuah Negara yang terkenal dengan kota islam yang merupakan tempat kelahiran nabi besar Muhammad SAW, dan tempat pertama kali Islam muncul serta daerah inilah yang pertama kali menjadi basis  kekuatan Islam dengan Negara islam yang berhasil menguasai seluruh timur tengah dan sampai ke afrika dan seluruh spanyol.
Saudi Arabia juga terkenal sebagai tempat yang sangat sacral bagi ummat islam dengan adanya kota Mekkah, dimana dikota tersebut terdapat kiblat bagi ummat Islam yaitu Ka’bah. Negara ini juga merupakan tempat utama bagi ummat islam dalam bulan Dzulqa’idah yang ingin melaksanakan haji atau rukun Islam yang ke-5 agar sempurna Islam seseorang.
Saudi Arabia juga terkenal dengan sebutan daerah yang beraliran Wahhabiah dengan imam mereka yaitu: Muhammad bin Abdul Wahhab. Dan pada kesempatan kali kita akan membahas apa saja yang berhubungan dengan Saudi Arabia dengan segala hal yang telah terjadi dalm pembaruan Islam di negara ini.

Muhammd bin Abdul Wahhab (1703-1787 M )
Pembaharuan  yang terjadi di Saudi Arabia yang dipelopori oleh Muhammd bin Abdul Wahhab. Beliau berasal dari Nejd sebuah kota di Arabia. Setelah menyelesaikannya pelajarannya di Mediah dia pergi merantau ke Basrah dan tinggal dikota ini selama empat tahun. Selanjutnya ia pindah ke Baghdad dan disini ia memasuki hidup perkawinan dengan seorang wanita kaya. Lima tahun kemudian, setelah istrinya meniggal dunia, ia pindah ke Kurdistan, selanjutnya ke Hmadan dan ke Isfahan. Dikota yang tersebut akhir ini ia sempat mempelajari falsafat dan tasawwuf. Setelah merantau bertahun-tahun ia akhirnya kembali ketempat ke;lahirannya yaitu Nejd.[1]

Pemikiran ibnu Abdul Wahhab
Pemikiran yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk memperbaiki kedudukan ummat islam timbul bukan sebagai reaksi terhadap suasana politik seperti yang terdapat di kerajaan Turki Ustmani dan kerajaan Mughal, tetapi sebagai reaksi terhadap faham tauhid yang terdapat dikalangan ummat islam diwaktu iut. Kemurnian faham tauhid mereka telah dirusak oleh ajaran-ajaran tarekat yang semenjak abad ketiga belas memang tersebar luas didunia Islam.
Di tiap Negara Islam yang dikunjunginya Muhammad bin Abdul Wahhab melihat kubura-kuburan syekh tarekat bertebaran. Tiap kota, bahkan kampung-kampung, mempunyai kuburan syekh atau wali masing-masing. Ke kuburan-kuburan itu ummat Islam pergi naik haji dan meminta pertolongan dari syekh atau wali yang dikuburkan di dalamnya, untuk menyelesaikan problema hidup mereka sehari-hari. Ada yang meminta supaya diberi anak, minta supaya disembuhkan dari penyakit yang dideritanya dan ada pula yang meminta supaya diberi kekayaan. Demikianlah bermacam-macam permohonan yang diajukan kepada syekh atau wali yang di istirahatkan dalam kuburan-kuburan itu. Syekh atau wali yang telah meniggal dunia itu dipandang sebagai orang yang berkuasa menyelesaikan segala persoaalan yang dihadapi manusia.
Karena pengaruh tarekat ini, permohonan dan do,a tidak lagi langsung dipanjatkan kepada Tuhan, tetapi melalui syafa’at syekh atau wali tarekat, yang dipandang sebagai orang yang dapat mendekati Tuhan dan dapat memperoleh rahmat-Nya. Menurut keyakinan orang-orang yang berziarah kekuburan syekh dan wali tarekat tersebut diata, Tuahan tidak dapat didekati kecuali melalui perantara. Bagi mereka, sebagai kata Ahmad Amin, “ Tuahan menyerupai raja dunia zalim yang untuk menperoleh belas kasihnya harus didekati melalui orang-orang besar dan berkuasa yang ada disekitarnya”[2].
Tetapi sebagai dilihat oleh Muhammad bin abdul Wahhab kemurnian tauhid bukan hanya dirusak oleh pemujaan kepada syekh atau wali, faham animisme masih mempengaruhi keyakinan ummat Islam. Disatu tempat ia melihat  orang berziarah kesebatang pohon korma, karena pohon itu diyakini mempunyai kekuatan ghaib. Di tempat lain ia melihat sebuah batu besar yang dipuja oleh kaum muslimin, dan mereka berziarah ketempat-tempat tersebut unutk meminta pertolongan dalam mengatasi persoalan-persoalan hidup mereka. Tuhan yang merupakan tempat mereka mengadu dan juga mengharap segala sesuatu telah dilupakan.
Ketika khurafat dan kebodohan telah menyebar luas dalam Negara-negara Islam. Yaitu masa-masa keterkaitan ummat islam dengan prinsip-prinsip(pokok pokok) pegangan mereka baik secara ilmiah maupun keyakinan telah lemah dan loyo, menurut Muhammad Abdul Wahhab akan mengakibatkan:

±  Kebodohan yang keji; penyebabnya adalah minimnya ilmu pengetahuan disamping ituilmu pengetahuan itu sendiri telah dikotori oleh berbagai kesalah pahaman.
±  Penyimpangan Aqidah; penyebabnya dominasi khurafat dan tahayul-tahayul yang begitu hebat di tambah bid’ah-bid’ah yang telah tersebar luas dimana-mana.
±  Kegoncangan dalam perbuatan; penyebanya dalah karena hilangnya manhaj (system) praktis.
±  Tenggelamnya dalam perselisihan; penyebabnya adalah lemahnya iman dan semakin retaknya tali persaudaraan ditambah betapa rendahnya pengetahuan mengenai kepentingan umat.
±  Terkagum-kagum dengan bangsa barat; penyebabnya tidak ada rasa percaya diri terhadap diri sendiri.
±  Menjadi makanan empuk buat keinginan bangsa asing; penyebabnya karena semua yang tersebut di atas.[3]

Keyakinan ini menurut faham Muhammd bin Abdul Wahhab telah msuk dari perbuata syirik atau politeisme. Dan syirik adalah dosa terbesar dalam islam, dosa yang tak dapat di ampuni Tuhan.
Soal tauhid memang merupakan ajaran yang paling dasar salam Islam. Dan oleh karena itu tidak mengheranan kalau Muhammad bin Wahhab memusatkan perhatian pada soal ini. Ia berpendaoat:

  1. Yang boleh dan harus disembah hanyalah Tuhan, dan orang yang menyembah selain Tuhan telah menjadi musyrik dan boleh dibunuh.
  2. Kebanyakan orang Islam bukan lagi penganut faham tauhid yang sebenarnya karena mereka meminta pertolongan bukan lagi dari Tuhan, tetapi dari syekh atau wali dan dari kekuatan ghaib. Orang islam demikian juga telah menjadi musyrik.
  3. Menyebut nama Nabi, syekh atau malaikat sebagai perantara dalam do’a juga merupakan syirik.
  4. Meminta syafa’at  selain dari Tuhan juga syirik.
  5. Bernazar kepada selain dari Tuhan juga syirik.
  6. Memperoleh pengetahuna selain dari Al-Qur’an, hadist dan qias(analogi) merupakan kekufuran.
  7. Tidak percaya kepada qadha dan qadar Tuhan juga merupakan kekufuran.
  8. Demikian pula menafsirkan Al-Qur’an dengan Ta’wil ( interpretasi bebas) adalah kufur.[4]

Semua yang diatas ia anggap bid’ah dan bid’ah adalah kesesatan. Unutk melepaskan ummat islam dari kesesatan ini ia berpendapat bahwa ummat islam harus kembali kepada Islam asli. Yang dimaksud dengan Islam asli adalah Islam sebagai yang dianut dan dipraktekkan pada zaman Nabi, sahabat serta tabi’in, yaitu sampai abad ketiga haijriah.
Kepercayaan dan praktek-praktek lain yang timbul sesudah masa itu bukanlah ajaran asli dari ajaran Islam dan harus ditinggalkan. Dengan demikian taklid dan patuh kepada pendapat ulam sesudah abad ketiga tidak dibenarkan. Pendapat dan penafsiran ulama tidaklah merupaka sumber dari ajaran-ajaran Islam. Sumber yang diakuinya hanyalah Al-Qur’an dan hadist. Dan untuk memahami ajaran-ajaran yang terkandung dalam kedua sumber tersebut dipakai ijtihad. Baginya pintu ijtihad tidak tertutup dan tetap terbuka sampai kapanpun.
Muhammad bin Abdul Wahhab dalam menyampaikan dakwahnya sealu terang-terangan dan tampa sembunyi-sembunyi atau melalui surat-surat yang beliau kirmkan kepada orang-orang yang berpengaruh pada masa itu, mengadakan hubungan secara pribadi,mengadakan studi tour dan kajian-kajian. Beliau bukanlah hanya seorang teoris, tetapi juga pemimpin yang dengan aktif berusaha mewujudkan pemikirannya.[5] Dalam menjalankan dakwahnya ia mendapat sokongan dari Muhammad Ibnu Su’ud dan sesudah Ibn Su’ud meninggal ia juga mendapat sokongan putrnya yaitu Abdul Aziz di Nejd. Faham-faham beliau mulaitesiar dan golongannyabertambah kuat, sehingga di tahun 1773 M mereka dapat menduduki Riad. Di tahun 1787 Muhammad Abdul Wahhab meninggal dunia tapi ajarannya tetap hidup dengan mengambil bentuk aliran yang dikenal dengan nama Wahhabiah[6].
Untuk mengembalikan kemurnian tauhid, kuburan-kuburan yang banyak dikunjungi  dengan tujuan mencari syaf’at atau lain sebagainya yang membawa kejalan faham syirik mereka usahakan menghapuskannya. Di tahun 1802 mereka serang karbala, karena dikota initerdapat kuburan Al-Husain, yangmerupakan kiblat bagi golongan Syi’ah. Beberapa tahun kemudian mereka menerang Medinah. Kubah-kubah yang ada diatas kuburan-kuburan mereka hancurkan. Hiasan-hiasan yang ada dikuburan nabi mereka rusak. Dari Medinah mereka teruskan penyerangan ke Mekkah. Kiswah sutra yang menutup Ka’bah juga dirusak-rusak. Mereka menganggap semua itu adalah bid’ah.
Kemajuan-kemajuan yang mereka peroleh mencemaskan bagi kerajaan Ustmani di Istambul. Sultan Mahmud II memberi perintah kepada Khedewi Muhammad Ali  di Mesir supaya mematahkan gerakan Wahhabiah. Ekspedisi yang dikirim dari Mesir dapat membebaskan Medinah dan Mekkah di tahun 1813 M. kedua kota ini jatuh kebawah kekuasaan Wahhabiah di tahun 1804 dan 1806 M. tetapi di permulaan abad dua puluh gerakan Wahhabiah bangkit kembali dan raja Abdul Aziz dapat menduduki  Mekkah di tahun 1924 M dan setahun kemudian juga Medinah dan Jeddah. Mulai dari waktu itu dan mazhab dan kekuatan politik Wahhabiah mempunyai kedudukan yang kuat ditanah suci ini.
Raja Abdul Aziz menggunakan kekuasaannya dalam meneguhkan tauhid dan aqidah yang dapat menyelamatkan manusia di negrinya, maka beliau dalam menyebarkan aqidah itu diluar negrinya dengan mempergunkan dua media:

  1. Mengirim para juru dakwah.
  2. Menyebarkan buku-buku tauhid yang murni dan aqidah Ahlussunnah[7]

Pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab yang mempunyai pengaruh perkembangan pemikiran pembaharuan di abad kesembilan belas adalah sebagai berikut:

  • Hanya Al-Qur’an dan haditslah yang merupakan sumber asli ajaran-ajaran Islam. Pendapat ulama tidak merupakan sumber hukum maupun pegangan.
  • Taklid kepada ulama tidak dibenarkan.
  • Pintu ijtihad terbuka dan tidak tertutup.

Penutup

Pembaruan yang terjadi di Saudi Arabia adalah semata-mata refleksi ketidak puasan Mhammad Abdul Wahhab yang melihat sudah banyak terjadi penurunan dalam dunia islam karena disebabkan oleh Khurafat, bid’ah, dan tahayul.
Demikianlah makalah ini kami buat, kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat kesalahan dalam penyajian makalah ini. Dan kami mohon kritik dan saran yang membangun terhadap makalah ini untuk memperbaiki pada pembuatan
makalah kami yang selanjutnya.




Daftar pustaka

Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, IAIn Ciputat, hal.26
Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin. Kajian Komprehensif Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’a,. Titian Ilahi Pres, Yogykarta



[1] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, IAIn Ciputat, hal.23
[2] Ibid  hal. 24
[3] Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin. Kajian Komprehensif Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’a,. Titian Ilahi Pres, Yogykarta, hal.76
[4] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, IAIn Ciputat, hal.25
[5]Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin. Kajian Komprehensif Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’a,. Titian Ilahi Pres, Yogykarta, hal.82
[6] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, IAIn Ciputat, hal.26
[7] Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin. Kajian Komprehensif Aqidah Ahlusunnah Wal Jama’a,. Titian Ilahi Pres, Yogykarta, hal.93